Ruang untuk Penganut Sunda Wiwitan

Lantaran jumlahnya kecil kelompok agama lokal kerap tidak mendapatkan pengakuan secara politik. Kelompok ini menjadi minoritas di Indonesia yang sering mengalami diskriminasi hingga pelarangan praktek keagamaan. Seperti yang dialami penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di Desa Cisantana, Kuningan, Jawa Barat. Mereka mengalami penyegelan terhadap lokasi calon makam salah seorang tokohnya.

Adapun isu tentang penganut kepercayaan dan agama lokal, menjadi salah satu pembahasan dalam rangkaian acara webinar Festival Inklusif 100 %.

Sebelumnya, komunitas tersebut telah meminta persetujuan masyarakat setempat untuk mendirikan makan di tanah pribadi. Namun, muncul oknum yang mempermasalahkan karena beranggapan lokasi tersebut akan menjadi tempat pemujaan yang dapat mengganggu aqidah dan menyesatkan keyakinan lain. Hingga akhirnya makam disegel pada tanggal 13 Juli 2020.

Komunitas tersebut juga mendapat surat peringatan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk tidak melanjutkan pembangunan makam.

Komunitas ini kemudian mengirimkan surat resmi kepada Kepala Desa untuk mengurus perizinan ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DMPTSP) hingga audiensi ke kantor Dewan Perwakilan Raykat Daerah (DPRD) Kabupaten Kuningan. Karena upaya tersebut tidak berhasil, komunitas Sunda Wiwitan kemudian melapor kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Butuh pembentukan tim advokasi untuk memperjuangkan keadilan bagi komunitas Sunda Wiwitan. Pembangunan makam pun berlanjut setelah muncul surat tugas dari Bupati.

Bukan Peristiwa Pertama

Hal itu bukan kali pertama komunitas Sunda Wiwitan mengalami pelarangan praktek keagamaan. Masyarakat pernah membubarkan salah satu komunitas Sunda Wiwitan, Paguyuban Adat Karuhun Urang, dengan alasan sesat. Bahkan, tak jarang penganut kepercayaan tersebut mendapat sebutan kafir dan paksaan berpindah agama.

Padahal agama ini sudah dipeluk masyarakat di Jawa Barat jauh sebelum agama resmi masuk ke Nusantara.

Agama ini mengandung kebaikan. Kata “Sunda” bermakna kejernihan pikiran, kebersihan rasa, dan keindahan perilaku yang wajib dimiliki manusia.

Sedang kata “Wiwitan” bermakna asal mula. Ajaran Sunda Wiwitan sendiri memiliki prinsip mengenai kesadaran akan jati diri manusia sebagai makhluk Tuhan dan kesadaran jati diri sebagai sebuah bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *