Dukungan Sosial Keluarga Jadi Kunci Lansia yang Produktif

Di Indonesia dan berbagai negara lainnya prosentase penduduk lanjut usia cenderung bertambah. Menurut Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) jumlah penduduk lansia di Indonesia diperkirakan mencapai 28,8 juta atau 11,34% dari populasi dengan Usia Harapan Hidup sekitar 71,1 tahun. Pada tahun 2025, jumlah lansia diperkirakan membengkak menjadi 40 jutaan jiwa.

Peningkatan jumlah lansia yang diperkirakan terjadi ini membutuhkan penanganan yang serius karena secara alamiah lansia mengalami penurunan dari segi fisik, biologi maupun mentalnya. Hal tersebut tidak terlepas dari masalah ekonomi, sosial dan budaya. Perlu adanya peran serta keluarga dan lingkungan agar mereka dapat hidup dengan sejahtera.

Kerentanan Lansia

Dari segi kesehatan, menurunnya fungsi berbagai organ lansia menyebabkannya rentan terhadap penyakit yang bersifat akut atau kronis. Manula cenderung mengalami penyakit degeneratif, penyakit metabolik, gangguan psikososial hingga penyakit infeksi. Mereka juga cenderung mengalami gangguan mental dalam bentuk depresi, gangguan kognitif, fobia, dan pemakaian alkohol. Hal itu kerap dihubungkan dengan hilangnya peranan sosial. Juga menghilangnya mata pencahariaan, kematian teman atau saudaranya, penurunan kesehatan, hingga isolasi karena berkurangnya interaksi sosial.

Mereka cenderung mengalami depresi dibandingkan pada populasi umum. Depresi adalah kondisi emosional yang umumnya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan merasa bersalah. Penyandang depresi cenderung menarik diri dari orang lain, memiliki pola tidur terganggu, kehilangan selera makan, kehilangan hasrat seksual, serta minat dan kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan.

Seseorang yang mengalami depresi akan mengalami perubahan dalam bentuk pemikiran, sensasi somatik, aktivitas, serta kurang produktif dalam pengembangan pikiran, berbicara, dan sosialisasi. Berkurangnya interaksi sosial dapat menyebabkan perasaan terisolir, sehingga lansia menyendiri atau mengalami isolasi sosial.

Dukungan sosial keluarga memiliki hubungan terbalik dengan tingkat depresi. Semakin tinggi dukungan sosial dari keluarga yang diterima akan mengurangi tingkat depresi pada lansia. Peningkatan jumlahnya yang tidak dibarengi dengan peningkatan upaya pemberian jaminan dan dukungan sosial yang memadai, akan berdampak pada semakin meningkatnya angka ketergantungan penduduk usia tua terhadap penduduk usia produktif.

Hal itu meningkatkan beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif. Padahal jika dimanfaatkan dengan baik, lansia memiliki pengalaman, keahlian dan kearifan. Mereka dapat terus aktif mengembangkan diri dalam berbagai bidang apabila sehat secara jasmani dan rohani. (*/Festival Inklusif 100 %)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *