Doa Bersama Perempuan Penghayat untuk Negeri

Pandemi covid 19 mengubah banyak hal di Indonesia. Untuk memulihkan kembali bumi, Puan Hayati menyelenggarakan doa bersama dan ruwatan Covid 19 secara daring. Puan hayati sendiri merupakan organisasi sayap perempuan penghayat kepercayaan yang berdiri pada tahun 2017. Organisasi ini berada di bawah naungan dari Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Adapun para perempuan penghayat ini menjadi salah satu pembahasan dalam seri webinar Festival Inklusif 100 %. Terutama dalam tema yang berjudul “Yang Beda, Yang Memberi Warna: Mewujudkan Pelayanan Publik yang Inklusif bagi kelompok Penghayat di Desa

Doa Bersama

Para perempuan penghayat dari berbagai penjuru Nusantara melakukan doa bersama untuk negeri. Acara ini dimoderatori oleh Dwi dari Puan Hayati Jawa Tengah.

Kegiatan dibuka dengan lantunan tembang pembukaan dari Sunda, Jawa barat oleh Rela. Tembang ini berisi tolak bala sekaligus panjatan doa agar bangsa Indonesia terbebas dari wabah covid-19.

Acara dilanjutkan dengan rangkaian doa persembahan dari perwakilan beberapa daerah, antara lain Sumatra Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Dalam kegiatan ini, tembang dan doa yang dilantunkan merupakan manifestasi permohonan kepada Tuhan YME supaya bumi sembuh kembali. Para perempuan penghayat percaya jika virus merupakan benda ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, mereka meminta kepada Tuhan untuk menghilangkan virus dari muka bumi. Doa bersama ini muncul juga karena adanya rasa miris melihat kondisi perempuan di tengah pandemi.

Kelompok Rentan

Setiap terjadi wabah atau bencana, perempuan selalu menempati posisi yang sangat vital dalam membangun benteng ketahanan keluarga dan masyarakat. Sementara, ia juga menempati posisi paling rentan di tengah keluarga dan masyarakatnya.

Pandemi memaksa banyak keluarga untuk berada di rumah dalam rangka mengurangi penyebaran virus tersebut. Hal tersebut meningkatkan kekerasan terhadap perempuan. Banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi akibat pemutusan hubungan kerja atau berkurangnya pemasukan. Beban ekonomi dan berkurangnya interaksi sosial perempuan menyebabkan banyak orang merasa jenuh. Hal tersebut meningkatkan kekerasan verbal, fisik, dan seksual terhadap perempuan.

Indonesia memiliki budaya patriarti yang masih kuat. Hal tersebut membuat seorang laki-laki memiliki kuasa lebih dan kerap kali menyalahgunakannya untuk melakukan kekerasan. Selain menimbulkan luka secara fisik, kekerasan juga memberi dampak psikis berupa trauma, hingga gangguan kesehatan mental, seperti stres, depresi, psikosomatis, insomnia, dan gangguan jiwa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *