Saat Desa Menjadi Rumah yang Ramah Bagi Lansia

Urbanisasi menyebabkan banyak anak muda desa pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Hal itu membuat desa menjadi hunian bagi penduduk tua dan anak-anak. Peristiwa serupa juga terjadi di Desa Kedungkeris, Gunungkidul, Yogyakarta. Desa tersebut banyak dihuni penduduk yang berusia di atas 60 tahun. Kondisi pertanian yang sulit dan rasa kesepian kadang membuat lansia mengalami depresi hingga melakukan bunuh diri. Berangkat dari permasalahan tersebut, Forum Pendidikan dan Perjuangan HAM (Fopperham) pun melakukan pendampingan pada para lanjut usia di Desa Kedungkeris, Gunungkidul, Yogyakarta.

Sebagai informasi, isu-isu tentang para lanjut usia ini yang juga menjadi pembahasan dalam seri webinar Festival Inklusif 100 %.

Merawat Para Lansia

Dalam menjalankan program tersebut, mereka melibatkan generasi yang lebih muda untuk merawat para lanjut usia. Para perawat tersebut sebelum menjadi relawan mendapat pembekalan pengetahuan mengenai hak asasi manusia. Mereka belajar jika Desa Kedungkeris memiliki sejarah kelam saat peristiwa kekerasan pada 1965/1966. Ada banyak korban pembunuhan pada saat tragedi 1965 berasal dari Desa Kedungkeris. Hal itu menggugah para relawan untuk membantu lansia dengan cara mengunjungi mereka. Banyak manula tersebut merasa kesepian karena tidak memiliki teman mengobrol akibat anak dan cucunya merantau ke kota.

Adapun para relawan pendamping lansia yang berjumlah 57 orang itu terdiri atas ibu-ibu dan perempuan-perempuan muda. Mereka mengikuti berbagai kegiatan seperti pendampingan hingga pemberian gizi lansia.

Para relawan memiliki jadwal kunjungan rutin kepada lansia yang sudah tidak bisa beraktivitas di desa. Pada kegiatan Gebyar Lansia 25 April 2019 lalu, Desa Kedungkeris dipromosikan sebagai Desa Ramah Lansia di Kabupaten Gunung Kidul.

Di sisi lain kegiatan ini memberikan kesempatan kepada ibu-ibu dan kaum muda untuk lebih terlibat dengan kegiatan kemasyarakatan. Mereka banyak mendapat kesempatan untuk bersosialisasi dan belajar hal baru. Bahkan, perwakilan relawan pendambing lansia ini memiliki kesempatan untuk bertemu dan menyampaikan pendapat kepada Wakil Bupati Gunung Kidul dan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Gunung Kidul.

Kesempatan untuk bertemu dengan pejabat publik dan berbicara di depan umum tersebut meningkatkan rasa percaya diri para pendamping para lanjut usia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *