Lewat Musik, Pesan Kesetaraan Itu Merasuk ke Dalam Jiwa

Musik menjadi bahasa universal yang dipahami semua orang. Lewat musik, orang bisa berbicara tentang banyak hal. Tentang perang, tentang cinta dan kedamaian, tentang kesedihan atau kegembiraan. Dan lewat musik pula orang bisa membawa pesan-pesan kesetaraan bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

Hal itu pula lah yang dilakukan oleh Nerpati Palagan dan Endang Sundayani dalam acara Gelar Budaya penutupan Festival Inklusif 100 % pada Sabtu (26/9/2020) malam. Acara yang digelar di Kampung Mataraman, Sewon, Bantul tersebut menjadi ajang bagi kelompok-kelompok terpinggirkan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya solideritas dan kesetaraan.

Pada kesempatan itu, Nerpati Palagan menyanyikan lagu Bapak Angkasa dan Ibu Bumi. Ia tampil dengan petikan gitar akustik Adam Maliq.

Lagu tersebut itu Pati setelah mendengar penuturan dari seorang penghayat. Melalui dialog tersebut, Pati menangkap jika Kelompok Penghayat dan masyarakat adat dari Barat hingga Timur memiliki kearifan untuk menjaga alam.

Para Penghayat memiliki keyakinan jika manusia hidup dari alam dan perlu menjaga alam. Air, tanah, dan udara merupakan wujud dari bapak dan ibunya sehingga perlu didoakan dan dijaga keberadaannya.

Istilah Bapak angkasa dan Ibu Bumi ini merupakan simbol jika manusia hidup di antara ibu dan ayah. Ia perlu hidup dalam harmoni dengan bumi pertiwi yang subur dan berlimpah, dan naungan angkasa maha luas. Berikutnya, Pati juga menyanyikan sebuah lagu untuk mereka yang berada di Indonesia Timur. Terutama yang mengalami pemarginalan.

Penampilan Endang Sundayani

Adapun Endang Sundayani tampil pada sesi selanjutnya. Perempuan kelahiran Bandung, 8 September 1977 ini pernah menjadi presenter program Aku Bisa, TVRI Yogyakarta.

Dalam acara Gelar Budaya ini, Endang tampil memperlihatkan kepiawaiannya dalam menyanyi. Ia pun mengajak para penonton ikut bernyanyi lewat lagu Sekitar Kita. Lagu yang pernah dipopulerkan oleh Grup Krakatau ini bercerita tentang sebuah harapan agar manusia bisa hidup damai tanpa memandang latar belakangnya.

Endang kemudian berduet dengan Pati menyanyikan lagu Di Mata Semesta. Lagu ciptaan Dewa Budjana, Asteriska, dan Baskara Putra tersebut mengajak pendengar untuk melihat dan memperlakukan setiap manusia secara setara dan semartabat. Tidak ada yang lebih rendah atau tinggi karena di mata semesta, kita semua sama. Lagu yang menjadi theme song Festival Inklusif 100% ini diluncurkan pada peringatan Hari Hak Azasi Manusia tahun lalu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *