Menuju Negeri yang Ramah Difabel

Negara merupakan hunian bersama bagi seluruh rakyat termasuk bagi difabel. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka harusnya tidak boleh ada diskriminasi kepada seseorang atau pun suatu kelompok termasuk kepada penyandang disabilitas.

Sayangnya, kelompok minoritas seperti difabel kerap kali belum mendapatkan haknya.

Inilah yang menjadi salah bahasan dalam Festival Inklusif 100%. Acara ini bertujuan agar difabel mendapat perlakuan yang lebih setara dan bermartabat. Dengan terpenuhinya hak-hak kaum difabel, beberapa di antaranya adalah ;

Hak Mobilitas Penyandang Disabilitas

Penyandang difabel memiliki hak agar ruang geraknya ketika beraktivitas di luar rumah terjamin. Hal itu bisa terjadi jika fasilitas di tempat-tempat umum bisa diakses dengan mudah. Seperti adanya trotoar yang mudah dijangkau, lift yang ramah terhadap pengguna kursi roda, hingga pusat perbelanjaan yang memudahkan kelompok tuna netra berkeliling.

Meskipun pemerintah daerah sudah menganggarkan pembuatan fasilitas publik ramah difabel, kerap kali fasilitas tersebut terbengkalai. Mulai dari trotoar yang bolong atau rusak guiding blocknya, hingga trotoar yang tertutup tiang listrik, baliho, hingga halte bus.

Kesempatan Kerja

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menjamin adanya hak dan kesempatan bagi kelompok difabel untuk bekerja. Agar mereka dapat memperoleh kehidupan sejahtera, mandiri, dan tanpa diskriminasi.

Sayangnya hingga kini kelompok difabel masih mengalami diskriminasi struktural. Salah satunya saat mendaftar di sebuah institusi pendidikan atau melamar pekerjaan.

Kerap kali universitas dan perusahaan mencantumkan syarat sehat jasmani dan rohani. Hal itu membatasi kaum difabel untuk mendapat akses pendidikan dan pekerjaan. Meskipun di kota-kota besar mulai bermunculan sekolah inklusi, di banyak daerah penyandang difabel hanya bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa.

Perlindungan Media

Saat ini proporsi pemberitaan media mengenai isu disabilitas mulai bertambah.

Hanya saja, konten yang tersaji masih berkutat pada perspektif kesedihan atau perlunya mengasihani penyandang difabel. Masih sedikit media yang menyediakan ruang dengan prespektif kemandirian difabel. (LRW)