Fakta-fakta Kasus Perdagangan Anak, Apa yang Melatarbelakanginya?

UUD 45 mengamanatkan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Sayangnya, hal tersebut belum tercapai secara merata. Masih ada banyak anak di Indonesia yang menjadi korban perdagangan anak atau trafficking.

Festival Inklusif 100% berupaya agar di masa depan kelompok marginal seperti anak tidak lagi mendapatkan kekerasan. Berikut 6 fakta yang biasa terjadi dalam praktik perdagangan anak.

Datang dari keluarga miskin

Kebanyakan yang menjadi korban perdagangan anak merupakan anak perempuan yang datang dari keluarga miskin. Karena keluarganya tidak mampu menyekolahkan, ia harus mencari pekerjaan ke kota.

Beberapa penelitian jika anak dianggap sudah cukup usia untuk membantu orang tua dan bekerja setelah ia tamat Sekolah Dasar.

Penelitian juga menujukkan sebagian anak-anak yang bekerja tersebut datang ke kota karena kerabat, atau sekedar teman atau tetangga yang bekerja di kota datang ke desa untuk menjemput mereka. Perekrut membayar sebagian gaji anak di muka kepada orang tua.

Ditipu dengan Iming-iming Pekerjaan

Awalnya, anak-anak yang menjadi korban perdagangan direkrut untuk bekerja sebagai pramusaji atau pekerjaan lain yang tidak membutuhkan keahlian.

Saat sampai di kota, mereka harus menyetujui sebuah hutang dan terpaksa menjadi pelacur untuk membayarnya. Kerap kali anak-anak ini terikat untuk menjalani pekerjaan tersebut hingga dewasa.

Pekerja Rumah Tangga Anak

Tidak jarang anak bekerja sebagai asisten rumah tangga baik di Indonesia maupun luar negeri. Pekerjaan ini tidak memerlukan banyak keterampilan.

Meskipun demikian, anak-anak memiliki resiko besar untuk celaka karena waktu kerja yang berlebih.

Selain itu, anak-anak tersebut rawan untuk mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya. Tidak jarang anak yang menjadi TKW mengalami pemalsuan umur untuk bekerja.

Pengantin Pesanan

Pengantin pesanan merupakan kelanjutan dari perjodohan dan pernikahan paksa. Kondisi ini cenderung menjadi kasus perdagangan karena keluarga si gadis menerima uang dari pihak laki-laki.

Ia rawan mengalami eksploitasi dan perbudakan karena pihak laki-laki beranggapan telah melakukan pembelian.

Ada Sejak Jaman Dulu

Industri seks sudah hadir sebelum zaman kolonial Belanda. Setidaknya ada sebelas wilayah di Jawa yang dahulu pernah lekat dengan masalah ini.

Hingga kini, Indramayu, Karawang dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; dan Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur merupakan daerah pengirim besar untuk pekerja seks di perkotaan.
Di luar Jawa ada wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, NTT dan NTB.

Merupakan Masalah Internasional

Perdagangan anak terjadi di berbagai wilayah dunia. Lebih sering terjadi di negara miskin yang penegakan hukumnya lemah. Kerapkali anak-anak dari negara miskin diculik kemudian dijadikan pekerja seks di negara lain.

Peristiwa ini juga kerap terjadi di negara-negara yang berkonflik.

Permasalahan tentang perdagangan anak atau trafficking dan kelompok marginal ini akan menjadi salah satu bahasan dalam Festival Inklusif 100 Persen. (LRW)